Powered By Blogger

Minggu, 13 Maret 2011

Ibu


Cerita ini adalah curahan hati teman saya..
Hujan deras senja itu, seakan mengguyur jiwa Rini yang tengah emosi, rapuhkan semangat hati yang kuat bagai batu berlapis baja, semburan keras sang petir pun seakan menampar wajahnya, memberikan karma atas kesalahannya. " mengapa dia pergi ketika aku belum tahu arti kebersamaan.."jeritnya dalam hati.
Secarik surat yang diterimanya 3 tahun silam selalu menjadi teman.Surat itu tak lain dari ibunya, walaupun sampai saat itu Rini tak pernah tau seperti apa wajah ibunya. Untaian kata di dalamnyapun sering membuatnya terpaku seakan menghayati. Kini hanya keresahan dan kesedihan yang setia menyelimuti jiwa dan pikirannya.
Suatu hari, ketika  Rini duduk melepas lelah, ia melihat seorang ayah menggandeng mesra tangan anaknya. Dia tersenyum melihatnya teringat peristiwa 10 tahun silam ketika ia berjalan pagi hari di sebuah gang dekat rumahnya bersama ayahnya.Namun celotehan sang ibu, seakan membiur matanya, tak terasa air matanya marah dan memberontak keluar membasahi pipinya. Ayah yang selama ini bersamanya memang membuatnya semakin lincah hidup sendiri tanpa sandaran seorang ibu namun,setiap dia berfikir siapa ibunya, kesedihan selelu menghampiri. Dengan keras ia coba untuk mengais kebahagiaan agar kesediahn tak berani lagi mendekat. Entah sampai kapan ia harus terbelenggu dalam dosa dan nestapa,mencintai ayahnya tapi belum bisa mencintai ibunya. Bagaiman jika malaikat Izroil datang mengetuk pintu rumahnya dan mencabut nyawanya? atau menjelma jadi udara masuk kedalam hidung ibunya dan perlahan mengambil nyawanya? Akankah Tuhan memaafkannya sedangkan belum sempat ia bertemu dan mengungkapakan rasa cinta untuk ibunya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar